ODHA Haruskah Khawatir Tertular COVID 19?

24 Juni 2020 | Artikel | 1032 | Dewi Utari

Dalam sebuah diskusi melalui media sosial dan focus group discussion (FGD) di antara sesama Orang  (hidup) Dengan HIV AIDS atau ODHA, sejak merebaknya pandemik COVID 19 di Indonesia, ada sebuah pertanyaan besar di benak mereka. Pertanyaan tersebut bernada kecemasan karena mereka membaca banyak berita dan mendengarkan saran yang diragukan kebenarannya. Pertanyaan yang paling sering mereka lontarkan: “Dengan status ODHA ini, apakah saya pasti terinfeksi virus corona? Apakah saya bisa segera mati bila ada 2 macam virus berbahaya itu di tubuh saya? Apakah betul ODHA paling rentan mengidap COVID 19?”

Untuk menjawab pertanyaan bernada kekhawatiran ini, dibutuhkan kebenaran informasi yang menenangkan bagi teman-teman ODHA. Berdasarkan penelitian dan pengalaman berbagai kasus, yang memberatkan bagi penderita COVID 19 adalah penyakit penyerta atau yang disebut komorbiditas. Di konteks HIV AIDS, disebut infeksi oportunis (IO). Komorbiditas COVID 19 yang memberatkan kondisi pasien yaitu apabila pasien sebelumnya telah menderita penyakit tidak menular seperti diabetes, jantung, penyakit yang berkaitan dengan paru-paru, kanker, dan auto-imun/gangguan imunitas. Memang HIV AIDS tergolong gangguan imunitas, sehingga bagi orang yang hidup dengan HIV AIDS disarankan untuk tetap menjaga imunitasnya dengan tidak putus mengkonsumsi ARV dan menjalankan pola hidup sehat. Selain untuk meningkatkan CD4, di masa pandemik ini juga untuk mencegah kemungkinan rekan-rekan ODHA tertular COVID 19. Menjalankan pola hidup sehat artinya mengkonsumsi makanan dan minuman sehat, cuci tangan pakai sabun, mengenakan masker yang tidak berganti dengan orang lain ketika harus keluar rumah atau berjumpa dengan orang lain, dan menerapkan jaga jarak. Hal ini dalam rangka agar rekan-rekan ODHA tidak mudah tertular virus lain, termasuk virus corona.

Informasi perlindungan untuk ODHA agar tidak tertular COVID 19 semacam ini sangat diperlukan bagi mereka yang tidak setiap saat mengakses media sosial. Oleh karena itu, bersama jejaring pemerhati HIV AIDS, CD Bethesda YAKKUM sejak akhir Maret dan awal April 2020 aktif melakukan edukasi, tidak hanya lewat media sosial tetapi juga leaflet/flyer dan para pendamping membuka layanan konsultasi jarak jauh dengan telepon. Selain itu menggandeng 8 Puskesmas dan 2 RS yang berada di Kota Yogyakarta untuk tetap melayani kesehatan dan konseling rekan-rekan ODHA dan pelayanan ARV bagi ODHA (4 dari 8 Puskesmas mitra kerja) mengingat tidak sedikit dari mereka yang mengalami kecemasan dan ketakutan. Untuk di kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur, CD Bethesda menggandeng 7 Puskesmas dan 1 RS. Kelompok Warga Peduli AIDS (atau WPA) juga dibekali dengan informasi yang tepat, agar dalam mendampingi ODHA dan keluarganya mampu mendukung dan menyampaikan edukasi yang tepat dan menenangkan.

Tidak hanya itu saja. Untuk mendukung ODHA memiliki pengetahuan bagaimana meningkatkan daya tahan tubuhnya, CD Bethesda dan jejaringnya di kota Yogyakarta (Dinas Kesehatan, Victory Plus, Yayasan Kebaya, KDS Metacom, KDS Violet, WPA, KDS Diajeng, Dimas, dan Srikandi Lintas Iman) memproduksi video tutorial membuat minuman herbal dan pijat refleksi yang bisa dilakukan secara mandiri oleh ODHA. Video edukasi ini disebarkan melalui media sosial masing-masing lembaga dan komunitas, sehingga rekan-rekan ODHA mudah mempraktekkan sendiri di kala mereka merasakan tubuhnya mulai lemah dan kurang fit. Video-video ini tidak terbatas disebarkan di kota Yogyakarta, tetapi juga menjangkau rekan-rekan ODHA di wilayah lain sampai ke Nusa Tenggara Timur, wilayah dampingan CD Bethesda.

Selain edukasi yang dijalankan tanpa henti, CD Bethesda juga memberikan bantuan untuk rekan-rekan ODHA dampingan dalam bentuk masker, susu, multivitamin, dan wedang uwuh, sementara untuk WPA diberikan instan herbal, wedang uwuh, dan masker. Pemberikan bantuan ini untuk merespon kesulitan mereka di awal pandemik mengakses bahan konsumsi yang meningkatkan imunitas dan alat perlindungan diri dalam bentuk masker, dimana masker sempat menjadi barang langka. Seiring dengan waktu, rekan-rekan ODHA berdaya untuk mengupayakan alat perlindungan diri dari resiko penularan dan mempraktekkan pola hidup sehat berbekal pengetahuan yang mereka dapatkan.

Kembali ke pertanyaan awal yang sempat mereka tanyakan selalu, apakah perlu mereka khawatir bila COVID 19 semakin meruntuhkan pertahanan kesehatan tubuh ODHA, jawabannya ada di dalam diri rekan-rekan ODHA sendiri. Sepanjang mereka rajin mengkonsumsi ARV, menjalankan hidup sehat dan sadar bagaimana melindungi dan memahami tubuh mereka, tentu kekhawatiran itu sebisa mungkin dihilangkan. Tak lupa juga berpikir optimis dan positif sangat mereka perlukan agar imunitas tubuh mereka melawan virus semakin baik. Di sinilah peran CD Bethesda YAKKUM bersama jejaringnya dibutuhkan, mendampingi ODHA dan warga yang menjadi sistem support mereka untuk saling memotivasi agar sanggup mencegah penularan. COVID 19 memang belum berakhir, tetapi masa depan ODHA pun juga tidak berakhir dengan adanya pandemik ini, karena meski ada virus di tubuh bernama HIV, mereka masih bisa memiliki kualitas kesehatan yang prima dan tangguh.