MENGGALI POTENSI YANG TERSEMBUNYI

By Admin | Saturday, 13 February 2018 | 193 views

 

Potensi bisa dikatakan sebagai kemampuan, kesanggupan, kekuatan atau sumberdaya yang memungkinkan untuk dikembangkan. Seiring berjalannya Program Peningkatan Peran Masyarakat dan Stakeholder untuk Mewujudkan Sistem Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak serta Penanggulangan Penyakit Menular yang Berkualitas di NTT sejak 2015 sampai 2017 telah menggali dan menemukan banyak potensi yang dimiliki masyarakat dan terbukti bisa dikembangkan. Bukan hanya potensi alam dengan keragamannya, namun juga potensi diri berupa bakat, wawasan dan ketrampilan yang selama ini kurang mendapat perhatian. Potensi itu perlahan mulai terbuka, terasah dan mulai menjadi karya yang berguna.

Sebagian masyarakat Alor mengenal kayu secang dengan sebutan kayu sompet atau kayu busur. Batang pohon ini biasa digunakan sebagai bahan pembuatan busur panah untuk keperluan berburu. Namun, sejak CD Bethesda memperkenalkan minuman secang, kini pohon ini juga digunakan untuk minuman kesehatan, terutama bagi ibu hamil.

Cara pembuatannya sederhana. Serutan kayu secang ditambah jahe dan bahan rempah-rempah lainnya direbus sampai mendidih hingga airnya berwarna merah maksimal. Air rebusan ini disaring, tambahkan gula sesuai selera dan minuman siap disajikan. Selain membuat tubuh hangat dan segar, minum wedang secang dirasakan juga melancarkan peredaran darah, menambah darah dan memulihkan kondisi tubuh pasca melahirkan. Inilah salah satu gambaran potensi tanaman di masyarakat yang bisa dimanfaatkan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan.

Tanaman lain yang juga banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk di Malaka, Sumba Timur dan Alor yaitu pohon marungga atau kelor (Moringa oleivera). Daun marungga yang banyak mengandung gizi seperti potassium, kalsium, vitamin C dan A ini ternyata jarang dimanfaatkan masyarakat. Padahal dengan mengonsumsi daun marungga maka keseimbangan nutrisi akan terpenuhi sehingga dapat meningkatkan energi dan ketahanan tubuhnya. Melalui pelatihan pengolahan bahan pangan lokal, kini daun marungga lebih sering diolah sebagai sayuran seperti sayur bayam, dibuat tepung dan ditambahkan dalam olahan makanan lainnya. Pemberian daun marungga secara rutin ternyata terbukti dapat meningkatkan gizi anak-anak balita.

Saat CD Bethesda memperkenalkan pembuatan tepung dari ubi kayu (cassava) dan pisang, para kader kesehatan pun bisa menemukan bahan ubi lainnya untuk dibuat tepung. Ada ubi jalar ungu atau sering disebut ubi ungu, ubi jalar kuning, ubi talas dan sebagainya. Tepung ataupun mocaf dari ubi dan pisang inilah yang menjadi bahan dasar pembuatan bermacam-macam kue atau makanan tradisional. Ada juga bahan yang bisa diolah langsung tanpa perlu dibuat tepung, antara lain labu kuning yang bisa dibuat puding.

Kegiatan posyandu pun menjadi ramai dan ibu-ibu atau orangtua pun antusias mengikutinya karena selain melakukan penimbangan dan pemeriksaan kesehatan, mereka pun bisa belajar mengolah makanan. Hasil pembuatan makanan di posyandu diberikan ke anak-anak balita dan ibu hamil yang hadir. Namun, ibu-ibu atau orangtua yang hadir juga bisa membuatnya di rumah untuk kebutuhan makanan keluarga. Tidak jarang, dalam kegiatan-kegiatan di gereja, pertemuan di kampung ataupun di desa, ada yang sudah mendapat pesanan untuk membuatkan kue untuk acara tersebut.

Satu lagi potensi di masyarakat yang tersembunyi dan jarang dimanfaatkan namun sebenarnya sangat bisa mendukung peningkatan kesehatan yaitu tanaman obat yang beragam. Ada kumis kucing, tapak liman, tempuyung, kecibeling, jahe, temulawak, kunyit dan puluhan jenis tanaman obat lainnya yang bisa ditemukan di sekitar rumah atau di kebun. Ada yang sudah digunakan namun sebagian belum karena ketidaktahuan khasiatnya. Di wilayah Malaka, ada jenis tanaman lokal yang biasa digunakan untuk mengobati luka. Maka saat ada pelatihan pembuatan minyak urut, lalu bahan dasar ini dikembangkan menjadi minyak obat luka. Ternyata minyak ini banyak membantu warga untuk menyembuhkan luka atau korengan karena sakit kulit. Sementara di Sumba Timur, akar tanaman tanda ay malara (kulit kayu pedas) ditambahkan untuk pembuatan minyak urut. Jenis-jenis ramuan rebusan tanaman obat atau jamu godok, minuman instan dan minuman segar pun sudah banyak dikuasai kader-kader kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan obat tradisional. Tidak sedikit pula warga yang sudah tertolong dengan memanfaatkan ramuan tersebut.

Kini, beberapa Kepala Desa di wilayah Malaka, Sumba Timur dan Alor bersedia menyediakan lahan untuk pengembangan ubi-ubian dan tanaman obat. Mereka sudah merasakan atau melihat sendiri bagaimana manfaat dari potensi desanya tersebut untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Maka, ada pula Kepala Desa yang dengan tak segan mengalokasikan juga Dana Desa untuk mendukung pelatihan pengolahan makanan lokal dan pembuatan obat tradisional. Bahkan, kader kesehatan yang sudah terbukti kinerjanya pun diberikan insentif per bulan. Sinergi yang baik antara ketekunan para kader dalam mengembangkan potensi lokal dan komitmen peningkatan kesehatan warga masyarakat dari pemerintah desa ini diharapkan akan terus meningkat dan diikuti Kepala Desa lainnya.