KADER TANGGUH DARI PALAKAHEMBI

By Admin | Saturday, 13 February 2018 | 200 views

 

Desa Palakahembi adalah salah satu desa yang wilayahnya paling luas serta kepadatan penduduknya paling banyak dari 6 Desa dan 2 kelurahan yang ada di Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur. Berdasarkan data awal yang diperoleh, di Desa Palakahembi masih banyak terdapat penyakit menular, salah satunya TB. Faktor utama masih tingginya kasus penyakit menular, antara lain disebabkan pemahaman masyarakat tentang penyakit menular yang masih rendah dan dianggap sebagai penyakit turunan. Umumnya, masyarakat malu untuk datang ke fasilitas kesehatan dan melakukan pemeriksaan. Atas dasar data dan fakta lapangan inilah sehingga Desa Palakahembi menjadi pilihan desa mitra CD Bethesda Yakkum sejak tahun 2015.

Program bersama antara CD Bethesda Yakkum, Pemerintah Desa, Puskesmas dan masyarakat diawali dengan kegiatan PRA dan training SALT. Diakhir kegiatan ini munculah kesepakatan untuk membentuk Tim Kesehatan Desa (TKD). Tim ini mempunyai peran untuk mengindentifikasi serta menjaring isu-isu kesehatan yang ada di masyarakat lalu berkoordinasi dengan pemerintah desa dan Puskesmas untuk melakukan penanganan.

Waktu terus berjalan dan berbagai kegiatan sudah dijalankan seperti PNC, pelatihan pangan lokal, pelatihan obat tradisional, sosialisasi TB, penjaringan suspek TB, kelas ibu bayi dan balita, kelas ibu hamil, dan lain sebagainya. Dalam perjalanannya kerja sama ini sangat efektif, Pemerintah Desa merespon positif dan mendukung setiap kegiatan. Demikian juga dari Puskesmas selalu bersama-sama dalam pelaksanaan kegiatan, baik Bidan Desa maupun Kepala Puskesmas terlibat langsung dalam aktivitas yang dilakukan CD Bethesda Yakkum.

Ada hal menarik dalam pendampingan di Desa Palakahembi ini yaitu semangat dan keikhlasan melayani Kristina B. Dadjo (54 tahun), seorang anggota Tim Kesehatan Desa (TKD). Dia aktif memberikan penyuluhan ke keluarga dari satu rumah ke rumah lainnya serta melakukan pendataan terhadap suspek TB. Ketika keluarga tersebut bersedia untuk diperiksa, maka Kristina melakukan pengambilan dahak yang selanjutnya diserahkan ke Puskesmas untuk diperiksa. Tidak sebatas itu saja, Kristina juga terus mengikuti proses pemeriksaan dan  berkoordinasi dengan petugas Puskesmas untuk menanyakan hasilnya positif atau negatif. Bila ternyata hasilnya negatif, Kristina tidak begitu saja meninggalkan, namun dia tetap melakukan pendampingan dengan mengamati gejala klinis dan keluhan yang dirasakan oleh suspek. Kemudian dia melakukan pendekatan dengan keluarga dan Puskesmas, agar suspek tersebut dirujuk ke rumah sakit untuk melakukan rongen. Bagi pasien yang positif, Kristina pun bersedia melakukan pendampingan minum obat, pemberian PMT dan kunjungan rumah. Sedangkan bagi pasien yang tidak bisa mengambil obat ke Puskesmas karena kendala transportasi, maka Kristina membantu mengambilkan obat di Puskesmas dan mengantarkan sampai ke rumah pasien TB.

Atas kegigihan dan ketekunan Kristina ini, maka Puskesmas memberikan kepercayaan penuh padanya untuk mendistribusikan obat anti TB bagi pasien yang berasal dari Desa Kadumbul. Paket obat anti TB untuk pengobatan selama 6 bulan diserahkan padanya untuk  diberikan kepada pasien setiap dua minggu. Untuk tugas ini, sebelumnya Kristina dibimbing oleh petugas Puskesmas tentang dosis pemberian obat.

Walaupun masih banyak tantangan yang dihadapi, utamanya jarak dari rumahnya ke tempat pasien yang sangat jauh, serta masih rendahnya kedisiplinan pasien seperti melanggar aturan minum obat, tidak minum obat. makan tidak teratur, kurang istirahat dan merokok, namun bukan menjadi penghalang bagi Kristina untuk melakukan pendekatan dan memberikan pemahaman pentingnya menjaga kesehatan dan perilaku hidup sehat. Kadang dia meminta bantuan aparat pemerintah lokal seperti Kepala Dusun atau RT untuk memberikan penyadaran bagi yang bersangkutan.

Dedikasi dan pelayanan Kristina Dadjo ini membawa perubahan positif bagi masyarakat desanya. Banyak masyarakat yang sudah mengerti bahaya penyakit TB, baik membahayakan bagi diri pasien maupun bagi keluarga serta lingkungan sekitarnya bila tidak dilakukan tindakan pencegahan dan pengobatan. Apa yang dilakukan Kristina juga membawa dampak lebih luas sehingga dengan sendirinya ada anggota masyarakat yang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Bila hasil pemeriksaan di Puskesmas belum berhasil, maka mereka meminta Kristina untuk mendampingi ke rumah sakit Lindimara atau ke Rumah Sakit Umum Daerah.

Sampai saat ini, Kristina telah melakukan pendataan 95 orang yang dicurigai TB. Berdasarkan hasil pemeriksaan, hasilnya 10 orang dinyatakan positif dan menjalani proses pengobatan. Melalui proses pendampingan selama minum obat, hasilnya sudah 6 orang dinyatakan sembuh dan 4 orang masih menjalani pengobatan.

Dalam perjalanannya sebagai anggota TKD, Kristina tidak sebatas melakukan penyuluhan atau berbagi informasi tentang penyakit menular namun juga tentang kesehatan ibu dan anak. Dengan bekal pengalaman yang sudah diperoleh dari kegiatan pelatihan, Kristina membagikannya kepada ibu-ibu yang ada di sekitar lingkungannya, bahkan ke dusun lain. Dia secara sukarela berbagi pengalaman bagaimana meningkatkan kualitas gizi keluarga, terutama gizi anak. Kegiatan ini dilakukannya baik secara langsung pada keluarga, dalam kegiatan di Posyandu maupun dalam pertemuan ibu-ibu di gereja.

Bukan hanya sekedar bicara, Kristina pun menerapkan pemanfaatan bahan pangan lokal untuk meningkatkan gizi keluarga. Sebelum mengajak masyarakat sekitarnya untuk kembali mengolah dan mengkonsumsi pangan lokal, dia memberi contoh pada keluarganya sendiri dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran serta tanaman berkhasiat obat.

Pemerintah desa memberi apresiasi dan mendukung terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Tim Kesehatan Desa. Sehingga dalam perencanaan penggunaan Dana Desa (DD) untuk tahun 2018, ada beberapa kegiatan yang mendapatkan alokasi pendanaan, antara lain: 1) Pelatihan pengolahan pangan lokal, sosialisasi penyakit TB dan Kusta; 2) Pengadaan bibit tanaman obat tradisional; 3) Penyedian lahan untuk pengembangan tanaman berkhasiat obat dan bahan pangan lokal; 4) Pengadaan jamban keluarga; 5) Anggaran untuk transport kader TKD dan penegasan kembali untuk membuat Perdes KIA.(*)