BENEDIKTA MERASA TAK LAGI SENDIRI

By Admin | Saturday, 13 February 2018 | 14 views

 

“Saya tak lagi sendiri,” ungkap Benedikta, tenaga sanitarian Puskesmas Radamata, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya. setelah merasakan adanya perubahan sanitasi di Desa Karuni, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya. Masih dengan wajah berseri-seri dan penuh semangat dia bercerita, kini dalam menjalankan program STBM di desa-desa wilayah kerja Puskesmas Radamata tak lagi merasa sendiri karena telah dibantu oleh kader STBM Desa dan aparat pemerintah desa. “Saya merasakan adanya perubahan sanitasi di Desa Karuni,” jelasnya.

Benedikta sering disapa akrab oleh masyarakat, “Mama Dino” (nama anak pertamanya). Dia yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan program STBM di Puskesmas Radamata yang mencakup 11 desa di Kecamatan Loura. Jarak antara desa satu dengan desa yang lain sangat berjauhan dan kondisi jalan kurang bersahabat. Apalagi saat musim hujan sangat sulit dilalui karena jalannya berlumpur. Namun, Benedikta tetap semangat melakukan pemicuan, promosi, pendampingan teknis serta memantau perubahan perilaku sanitasi dan hidup bersih dari rumah ke rumah.

Semenjak ada kebijakan pentingnya kelembagaan untuk menjalankan program STBM di masyarakat, Pokja AMPL Kabupaten Sumba Barat Daya dan didampingi oleh UPKM/CD Bethesda telah membentuk Pokja AMPL tingkat Kecamatan. Pokja AMPL Kecamatan meneruskan pembentukan Tim STBM di setiap desa.

Prinsip STBM adalah non subsidi, artinya untuk pembangunan sarana sanitasi tidak ada subsidi tetapi akan diswadayakan berdasarkan kemampuan setiap rumah tangga dan memaksimalkan pemanfaatan potensi lokal. Kebijakan ini diambil mengingat pembangunan sarana sanitasi di rumah tangga merupakan kebutuhan pribadi masing-masing rumah tangga dan manfaatnya untuk anggota keluarga itu sendiri, seperti menurunnya kasus penyakit diare, demam berdarah, muntaber, kulit, dll. Namun demikian, pemerintah Desa menyediakan anggaran untuk pelaksanaan kegiatan STBM di desa, misalnya untuk pendidikan penyadaran/ pemicuan, promosi, pendampingan teknis, monitoring, verifikasi dan deklarasi Desa STBM. 

Kegiatan STBM di Desa Karuni dimulai dengan pendataan awal secara partisipatif bersama masyarakat dan pemerintah desa terkait kepemilikan jamban dan sarana sanitasi lainnya. Pendataan tersebut dilakukan Sanitarian dan Kader STBM Desa dengan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah dalam lingkungan RT. Kemudian direkap ke tingkat Dusun dan tingkat Desa sebagai data awal bagi pemerintah Desa dan sanitarian.

Data dari setiap desa direkap oleh sanitarian sebagai data awal Puskesmas dan Pokja AMPL Kecamatan untuk dilaporkan ke tingkat Kabupaten (Dinas Kesehatan dan Pokja AMPL Kabupaten). Data awal ini penting dilakukan untuk mengetahui kondisi riil sebelum dilakukan intervensi dan menjadi acuan untuk mengukur perubahan perilaku di masyarakat setelah dilakukan intervensi atau upaya-upaya pendidikan penyadaran di masyarakat.  

Pendidikan penyadaran STBM ke masyarakat dilakukan sanitarian dan Kader STBM Desa menggunakan metode pemicuan dengan tujuan untuk menggugah kesadaran individu atau kelompok secara partisipatif. Pemicuan di Desa Karuni sendiri telah dilaksanakan pada 27 April 2017 dengan teknik pemetaan rumah dan lokasi BAB setiap anggota rumah tangga.

Metode ini dilakukan secara partisipatif melalui permainan membuat peta batas wilayah dusun atau kampung dan letak jalan yang ada di dusun atau kampung dengan menggunakan bahan kapur sirih atau abu dapur di atas tanah lapang. Kemudian peserta diminta untuk menentukkan letak fasilitas umum serta sumber air minum yang biasa dipergunakan oleh masyarakat. Dilanjutkan peserta diminta untuk menunjukan letak rumahnya masing-masing dengan menggunakan sepotong kertas berwarna dan menuliskan nama kepala keluarga, jumlah KK dan jumlah anggota rumah tangga. Bahkan bisa dilengkapi dengan data jumlah balita dan jumlah lansia yang tinggal di rumah tangga, karena mereka merupakan kelompok rentan yang harus diperhatiakan kesehatannya dan sekaligus bisa menjadi dasar untuk pemicuan.

Lalu setiap peserta diminta menunjukan lokasi BAB yang menjadi kebiasaan oleh semua anggota keluarga. Bagi peserta yang BAB di jamban diminta meletakan sepotong kertas berwarna lain diatas potongan kertas untuk lokasi rumah. Sedangkan bagi peserta yang BAB tidak di jamban/sembarang tempat, diminta untuk meletakan kertasnya di luar potongan kertas untuk rumah. Cara ini akan menunjukan pada sanitarian dan kader STBM bahwa rumah mana yang sudah punya jamban dan rumah mana yang masih BABS serta dapat memberikan informasi awal terkait berapa rumah yang telah memiliki jamban di dusun/kampung tersebut.

Berdasarkan peta tersebut, para kader dapat memulai pemicuan terhadap peserta yang tidak punya jamban atau yang potongan kertas jamban berada di luar potongan kertas rumah. Dengan mengajukan pertanyaan, “Dimana tempat Buang Air Besar? Bagaimana perasaannya ketika Buang Air Besar di sembarang tempat?” Apabila peserta tersebut menunjukan rasa malunya maka kader STBM dapat melanjutkan dengan pertanyaan untuk memotivasinya agar mau merubah perilakunya, “apa yang seharusnya diperbuat agar tidak merasa malu pada saat BAB? Ketika peserta mengatakan akan membuat jamban maka fasilitator harus memberikan apresiasi dengan memberikan ucapan selamat dan memuji bahwa keputusan yang dibuat adalah sangat luar biasa karena akan membantu kesehatan anggota keluarganya.

Lalu kader STBM bisa menanyakan secara consensus kepada semua peserta yang belum memiliki jamban, “apakah sepakat dengan keputusan peserta sebelumnya untuk membuat jamban?” Apabila semua peserta sepakat untuk membuat jamban maka kader STBM dapat mengajak peserta untuk menulis dalam lembar komitmen (nama kepala keluarga, tanggal mulai membuat jamban, tanggal selesai membuat jamban dan tanda tangan) yang ditandatangani oleh aparat pemerintah desa yang hadir dalam kegiatan pemicuan. Lembar komitmen tersebut sebagai acuan bagi sanitarian dan kader STBM untuk mengatur jadwal pendampingan teknis dan melakukan monitoring atas pelaksanaan pembangunan jamban di Dusun/ Kampung tersebut.

Apabila ada rumah tangga yang tidak hadir dalam kegiatan pemicuan tersebut maka peserta lain atau kader STBM dapat membantu melengkapi pemetaan tersebut.Hasil pemetaan dari tanah lapang, kemudian disalin ke dalam kertas plano oleh kader/sanitarian dan dijadikan alat monitoring social secara partisipatif. Ketika sudah ada rumah tangga yang selesai membangun jamban maka kader/kepala dusun/sanitarian harus memperbaharui simbol kepemilikan jamban pada peta tersebut. 

Guna meningkatkan tangga sanitasi di setiap rumah tangga, kader STBM Desa dan sanitarian masih harus melakukan promosi terkait teknologi sanitasi lainnya seperti sarana Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di air mengalir, Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMMRT) yang aman, Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PSRT) dan Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga (PALRT) yang aman. 

Diharapkan apabila setiap rumah tangga sudah melakukan kelima pilar STBM tersebut maka akan diperoleh lingkungan yang bersih dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Untuk memastikan hal tersebut maka kader STBM, sanitarian, pemerintah desa dan Pokja AMPL Kecamatan harus melakukan monitoring secara terus menerus, juga melakukan evaluasi terhadap hasil yang telah dicapai dan merencanakan strategi serta kebijakan lebih lanjut untuk mencapai 100% STBM di desa.

Perubahan lain yang dirasakan oleh Benedikta/Mama Dino, terkait sudah adanya anggaran dari pemerintah Desa Karuni untuk kegiatan pemicuan dan promosi, insentif kader untuk melakukan pendampingan teknis dan monitoring serta operasional untuk aparatur desa dalam melakukan kegiatan STBM ke dusun-dusun/ kampung-kampung.

Selain itu pemerintah desa sudah membuat Surat Keputusan (SK) untuk pengangkatan kader STBM desa, yang memiliki legitimasi hukum dalam menjalankan tugasnya di masyarakat. Bahkan untuk upaya pemberdayaan kesehatan kepada masyarakat luas maka pemerintah Desa membuat kebijakan untuk tidak memberikan rangkap tugas kepada para kader. Sehingga ada cukup banyak warga masyarakat yang terlibat menjadi kader STBM, kader Pos Yandu, dan kader lainnya.

Perubahan ini merupakan hasil kerja keras banyak pihak terkait antara lain kader STBM Desa, sanitarian (Benedikta/Mama Dino), Kepala Desa beserta aparaturnya (ketua RT, Ketua RW, kepala dusun, Kaur Desa dan BPD). Perubahan tersebut bisa dicapai karena ada komitmen kuat dari seluruh unsure yang ada di desa. Sekalipun telah ada perubahan sanitasi di Desa Karuni tetapi Benedikta, kader STBM dan pemerintah Desa Karuni masih harus terus melakukan monitoring dan sekaligus pemicuan serta promosi agar seluruh rumah tangga mewujudkan perbaikan sanitasi hingga desa mencapai 100% STBM.

Sebelumnya, Benedikta sebagai Sanitarian hampir merasa putus asa karena selama lebih dari 3 tahun melaksanakan program STBM belum ada peningkatan yang signifikan terkait kepemilikan dan akses sanitasi. Puskesmas Radamata hanya mengalokasikan dana STBM sebesar Rp 5.100.000 untuk kegiatan pemicuan dan pendampingan STBM. Dana yang sangat minim untuk pendampingan terhadap 11 desa yang menjadi wilayah cakupan Puskesmas Radamata. Dana itu hanya cukup untuk biaya perjalanan sanitarian selama setahun. Sehingga capaian kepemilikan dan akses jamban rumah tangga masih di bawah 30 %.

Tapi kini Benedikta merasa sangat senang karena tak lagi merasa sendiri dalam mejalankan program STBM. Sudah ada kader-kader STBM di setiap desa dan ada dukungan dana dari pemerintah desa serta Puskesmas. Juga ada sistem monitoring dan evaluasi secara intensif oleh Pokja AMPL Kecamatan yang dapat mendorong terbangunnya kinerja pelaku STBM di tingkat desa. Program STBM akan berkelanjutan hingga terwujud desa-desa yang akan mendeklarasikan 100% STBM di tahun 2017 ini. 

Selain itu, Benedikta juga mengucapkan terimakasih kepada aparatur desa dan memberikan semangat kepada kader-kader bahwa apa yang mereka lakukan tidaklah sia-sia tetapi membawa perubahan besar dan bermanfaat bagi desa Karuni bahkan Kecamatan Loura hingga Kabupaten Sumba Barat Daya.

Diharapkan agar perubahan yang telah dicapai tidak hanya bersifat sementara karena ada kebijakan program STBM melainkan harus menjadi perubahan yang berkelanjutan di masyarakat. Sanitasi layak dan perilaku hidup bersih menjadi kebutuhan dan bermanfaat bagi kesehatan masyarakat. Bahkan upaya peningkatan sanitasi harus berkelanjutan karena memiliki manfaat ekonomi bagi rumah tangga melalui pengelolaan sanitasi yang aman.

"Salam STBM yang berkelanjutan untuk kesehatan bersama,” pungkasnya.