PARA KADER KESEHATAN SEBAGAI RELAWAN

By Admin | Friday, 12 February 2018 | 413 views

 

Menjadi relawan kesehatan ternyata tidak mudah. Tidak cukup hanya bermodal minat, kemauan dan semangat, tetapi juga perlu pengetahuan dan ketrampilan dasar tentang kesehatan. Setelah menguasai kemampuan dasar tersebut dan menjalankan tugas sebagai relawan, tidak otomatis kegiatan berjalan lancar. Kadang ada hambatan, tentangan dan kecurigaan dari anggota masyarakat. Para relawan yang tergabung dalam Tim Kesehatan Desa (TKD) dalam melakukan pendampingan dan pelayanan di masyarakat sering mendapat pertanyaan dan kecurigaan bahwa mereka mendapat uang saku atau gaji bulanan dari mitra. Padahal sebagaimana namanya, para relawan kesehatan ini bekerja dengan sukarela untuk terlibat dalam mengatasi problem kesehatan di lingkungannya.

Suka dan duka selama menjadi TKD merupakan dua pengalaman yang tulus dijalani para relawan kesehatan tersebut. Kadang mereka mengalami kendala jarak dari rumah mereka ke tempat pertemuan atau ke rumah-rumah yang dikunjungi sangat jauh dan mereka harus mengeluarkan biaya ojek. Di sisi lain, mereka senang bisa membantu masyarakat yang membutuhkan pendampingan. Misalnya, TKD aktif melakukan penjaringan, mendampingi pemeriksaan di Puskesmas dan mendampingi rongent di Rumah Sakit serta menjadi Pengawas Menelan Obat (PMO) yang dilakukan bersama keluarga pasien. Bahkan beberapa keluarga justru datang ke kader untuk minta pot tempat dahak dan minta didampingi untuk pemeriksaan TB di Puskesmas atau rongent di Rumah Sakit jika diperlukan.

Pendekatan yang dilakukan CD Bethesda melalui pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, khususnya dengan memberikan ketrampilan pelayanan pengobatan tradisional kepada kader, ternyata juga mendapat tanggapan positif dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas di Malaka. Oleh sebab itu, Dinkes Kabupaten, Kepala Puskesmas dan Pengelola Batra Puskesmas Malaka Barat mengajak koordinasi CD Bethesda untuk membahas rencana integrasi pelayanan medis dan batra di Puskesmas. Sebagai tindak lanjut, Dinkes Malaka merencanakan pelatihan obatra dan budidaya tanaman obatra. Selanjutnya akan diadakan pelayanan batra di Puskesmas Malaka Barat.

Kegiatan pelatihan obat tradisional dan akupresur juga dilaksanakan di tingkat kabupaten Alor dengan melibatkan 20 peserta dari perwakilan TKD. Kegiatan ini dibuka oleh Bupati Alor, Drs. Amon Jobo. Peserta mendapatkan pemahaman materi obatra dan mampu mempraktekkan pembuatan minuman segar, instan, bedak dan ramuan lainnya dari bahan tanaman obat. Peserta juga mampu mempraktekkan pijat bayi dan ibu hamil. Demikian juga di Sumba Timur dilaksanakan pelatihan obat tradisional dan akupresur di tingkat kabupaten dengan peserta anggota TKD perwakilan dari 9 desa mitra. Peserta meningkat pengetahuannya dalam mengenal tanaman obat dan mampu membuat 12 macam jamu. Peserta juga memiliki pemahaman pijat bayi dan ibu hamil.

TKD juga aktif menjadi motor penggerak dalam acara Peringatan Hari TB Sedunia tahun 2016 di Alor dan Malaka. Di Alor, kegiatan ini dilaksanakan di dua lokasi berbeda yaitu di pasar Mainang pada 22 Maret 2016 dan di pasar Lola pada 24 Maret 2016, bertepatan dengan Hari TB. Slogan yang digunakan dalam aksi peringatan ini sesuai dengan tema nasional yaitu “AYO PERIKSA BATUK ANDA, Gerakan keluarga menuju Indonesia bebas TB, Gerakan Temukan TB, Obati sampai sembuh.” Peringatan sengaja dilaksanakan di pasar-pasar tempat bertemunya orang-orang dari berbagai desa sekitar karena selama aksi dilakukan pembagian leaflet atau selebaran yang berisi informasi dasar tentang penyakit TB dan gambaran kasus TB serta pemasangan spanduk kampanye. Selain TKD, kegiatan ini juga melibatkan petugas kesehatan Puskesmas dan staf CD Bethesda.

Kampanye Hari TBC Sedunia di wilayah Malaka dilaksanakan tanggal 26 Maret 2016 di pasar Besikama, Kecamatan Malaka Barat. Kegiatan berisi sosialisasi tentang penyakit TB dan pembagian leaflet bagi semua pengunjung pasar. Peserta aksi terdiri dari TKD perwakilan 6 desa mitra, petugas Puskesmas Malaka Barat dan staf CD Bethesda. Selama kegiatan ini, ada beberapa warga yang datang dan melakukan konsultasi langsung dengan TKD dan Puskesmas tentang gejala-gejala batuk yang mereka rasakan. TKD dan petugas pun selanjutnya memberi saran kepada warga yang mengarah ke gejala TB agar melakukan pemeriksaan di puskesmas untuk memastikan.

Masih banyak peran aktif para relawan kesehatan tersebut yang signifan menghasilkan perubahan-perubahan kesadaran serta perilaku warga dan berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Terlalu panjang untuk disebutkan, namun tetap menjadi catatan tak terlupakan.*