PERAN AKTIF PARA PETUGAS KESEHATAN

By Admin | Friday, 12 February 2018 | 532 views

 

Pencapaian perubahan di masyarakat dalam bentuk inisiatif kesehatan yang diidentifikasi oleh masyarakat sendiri untuk menanggulangi penyakit menular serta dukungan sosial untuk ibu hamil, ibu menyusui dan balita, tidak lepas dari peran aktif petugas kesehatan, baik di desa, Pustu, Puskesmas, Rumah Sakit maupun Dinas Kehatan. Misalnya dalam kasus-kasus emergency yang dilaporkan masyarakat, ternyata mendapat respons yang baik dari puskesmas dan Dinas Kesehatan. Di wilayah Alor, ada kasus ibu yang melakukan persalinan di dukun dengan ari-ari yang tertinggal di perut. Kemudian TKD menghubungi call center 2H2 milik Dinkes. Ibu itupun kemudian dijemput dan segera dirujuk ke Rumah Sakit sehingga dapat ditangani dan selamat. Demikian juga kasus ibu hamil resiko tinggi (malaria) dengan kondisi bayi sungsang di Desa Mataru Utara di Alor yang dirujuk ke Rumah Sakit Daerah, berhasil ditolong sehingga ibu dan bayi selamat.

Beberapa contoh lain respon yang baik dari petugas kesehatan, membuat masyarakat di Kecamatan Alor Barat Daya-Alor mulai ada perubahan dari persalinan di rumah menjadi di fasilitas kesehatan. Masyarakat maupun petugas kesehatan sudah memanfaatkan tempat pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan kehamilan dan persalinan. Kepala Pustu di Pintumas juga merespon kesepakatan dan keputusan pemerintah desa setempat yang mewajibkan persalinan di faskes dengan melakukan pembersihan ruang tunggu bagi keluarga yang menunggu persalinan di Pustu dan menyiapkan petugas jaga. Saat ini sudah ada 8 persalinan di Pustu dari sebelumnya tidak ada. Demikian juga di Puskesmas Probur, setelah ada kesepakatan masyarakat di desa Probur yang mengharuskan persalinan di fasilitas kesehatan, petugas kesehatan (koordinator bidan) berkomitmen untuk menolong persalinan di Puskesmas. Sementara di kecamatan Mataru-Alor, semula pemeriksaan kehamilan sesuai standart hampir tidak ada dan persalinan masih dilakukan di rumah dan ditolong dukun kampung, bahkan ada ibu yang bersalin sendiri. Setelah ada kesepakatan antara petugas kesehatan dan masyarakat, saat ini pelayanan kesehatan yang dilakukan petugas kesehatan sudah mulai intensif, ibu hamil mulai memeriksakan kehamilan dan persalinan sudah ada di faskes desa Taman Mataru.

Saat masyarakat di desa Maktihan mengusulkan adanya pemeriksaan golongan darah, Puskesmas Malaka Barat merespon dengan baik. Kegiatan ini diadakan pada 12 November 2016 di kantor desa setempat. Ada 103 orang (66 perempuan dan 37 laki-laki) yang melakukan cek golongan darah dan menjadi ‘bank darah’ jika sewaktu-waktu dibutuhkan ibu melahirkan yang mengalami situasi emergency. Puskesmas di Wileman dan Malaka Barat berperan aktif dalam penjaringan suspek TB dengan penyediaan pot dahak, pemeriksaan laboratorium, penyediaan obat anti-TB, monitoring dan evaluasi pengobatan. Dalam pemeriksaan malaria, petugas menyediakan alat dan reagent serta obat. Puskesmas juga menyediakan mobil ambulan untuk membantu transportasi ibu hamil yang akan melahirkan, melakukan pemeriksaan HB, pemberian vaksin dan sosialisasi secara individu mengenai persiapan menjelang persalinan. Bagi ibu nifas, Puskesmas melakukan pemantauan dan setelah hari ke 40, memotivasi pasangan suami-istri untuk mengikuti program KB.

Demikian juga di wilayah Sumba Timur, Puskesmas Pandawai merespon usulan masyarakat di desa Palakahembi dan Watumbaka untuk memfasilitasi sosialisasi dan penjaringan suspek TB. Kemudian untuk mengefektifkan penanganan TB di wilayah Kecamatan Nggoa, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur sudah merespon rekomendasi peserta pertemuan stakeholder di tingkat Kecamatan dengan menempatkan satu tenaga khusus laboratorium di Puseksmas Nggoa untuk bisa melakukan pemeriksaan dahak suspek. Posisi ini sebelumnya dirangkap oleh Kepala Puskesmas.

Meski tidak semua berjalan mulus, namun respon yang sudah baik ini ke depan diharapkan akan terus terjaga dan berkembang lagi. Dengan demikian semangat kader kesehatan dan masyarakat yang antusias mau terlibat aktif dalam mendukung pelayanan kesehatan komunitas ini tidak bertepuk sebelah tangan tetapi tetap terus terpelihara.*