MENYENTAKKAN KESADARAN TENTANG HIV-AIDS

By Admin | Friday, 12 February 2018 | 399 views

 

Menyibak selimut hal yang tersembunyi bukanlah hal yang mudah. Utamanya manakala yang tersembunyi itu tidak dikehendaki untuk muncul ke permukaan oleh orang yang bersangkutan. Laksana mencari jarum di tumpukan jerami, bila seseorang yang terinfeksi HIV menyembunyikan kondisinya. Selama periode Januari-Desember 2016 beragam aktivitas terkait dengan penanggulangan HIV-AIDS di Kabupaten Alor, Malaka dan Sumba Timur dilakukan secara simultan. Mulai dari pendidikan tentang HIV-AIDS di level Desa, pertemuan stakeholder HIV-AIDS, VCT, pembentukan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS), Peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) pada 1 Desember 2016, serta adanya layanan konseling. Termasuk pendampingan perawatan kesehatan bagi ODHA di Puskesmas dan Rumah Sakit. Semuanya menunjukkan bahwa program penanggulangan HIV-AIDS di tiga area ini sangat baik.

Pembelajaran menarik dari program P2M untuk HIV-AIDS ini adalah tumbuhnya kesadaran massif dari multi stakeholders di tiga Area: Alor, Sumba Timur dan Malaka terhadap HIV-AIDS, dari yang semula seakan “acuh-tak acuh” atau biasa saja, berbalik menjadi merespons program HIV-AIDS CD Bethesda secara positif. Sebagai ilustrasi, di Kabupaten Malaka, di awal program ini berjalan tahun 2015, belum ada layanan VCT dan belum tersedianya obat ARV di Rumah Sakit Umum Daerah. Namun dengan sinergisitas kemitraan yang dibangun antara CD Bethesda di area dengan Dinas Kesehatan dan KPAD setempat, maka situasinya berubah. Dinas Kesehatan secara progresif terus mendukung program dan penanggulangan HIV-AIDS dari level promotif dan kuratif. Dalam rangkaian acara Peringatan Hari AIDS Sedunia 2016, di Kabupaten Malaka telah berhasil melakukan VCT bagi anggota TNI, POLRI dan masyarakat yang rentan terinfeksi HIV, total dari 84 orang yang melakukan VCT atau tes HIV, hasilnya ada 2 orang dinyatakan positif terinfeksi HIV. Demikian juga di Kabupaten Alor, melalui koordinasi stakeholder HIV-AIDS yang diinisiasi CD Bethesda, saat ini mampu menggerakkan aktor-aktor yang ada di Kabupaten, seperti KPAD, Bappeda, Dinas Kesehatan, Klinik VCT RSUD, Dinas Pendidikan dan sebagainya untuk bersinergi.

Munculnya kesadaran massif ini menginformasikan kepada kita, bahwa program HIV-AIDS CD Bethesda telah menyentakkan masyarakat secara umum akan bahaya penularan HIV di masyarakat. Gambaran nyata keterhentakan ini terwakili dalam Peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) yang diadakan 1 Desember 2016, baik di Kabupaten Alor, Malaka maupun Sumba Timur. Awalnya tidak terduga, namun saat pelaksaannya betapa massif dan beragamnya kesertaan berbagai sektor dan level masyarakat yang terlibat. Gambaran tentang Peringatan HAS terinformasikan dari rangkaian kegiatan di di Kabupaten Alor mulai dari pelayanan cek tekanan darah, tes golongan darah, donor darah, sosialisasi dan publikasi 6.000 leaflet, 30 poster dan 10 sepanduk yang dilakukan saat longmarch. Acara ini longmarch sendiri diikuti tidak kurang dari 350 peserta perwakilan dari unsur: KPAD, Klinik VCT, RSUD, Dinas Kesehatan, PMI, Nusantara Sehat, Organisasi Masyarakat Asppal, Pelajar, Pemuda Gereja dan Sanggar. Kegiatan serupa yang melibatkan stakehoders secara massif terjadi di Kabupaten Malaka dan kabupaten Sumba Timur saat HAS. Dengan demikian, informasi tentang HIV-AIDS sudah semakin meluas di semua kabupaten.

Pembelajaran menarik dari program HIV-AIDS ini adalah munculnya kesadaran masyarakat, baik di masyarakat level desa maupun di komunitas yang lebih profesional lainnya, seperti aparat pemerintah, pelajar dan institusi pemerintah sendiri sebagai pihak yang bertanggung jawab pada program kesehatan. Dengan mulai munculnya kesadaran banyak pihak ini, memberikan peluang untuk mendesiminasi perubahan dalam skala lebih luas, utamanya pada mereka yang berada pada sektor resiko tinggi, seperti kaum urban yang bekerja di kota-kota besar di luar NTT. Mereka pada waktu-waktu tertentu secara reguler pulang kampung ke Malaka, Alor atau Suma Timur. Umumnya dari 3 wilayah ini banyak yang bekerja ke luar pulau, antara lain pulau Bali, Batam, Surabaya dan Makasar. Dengan demikian potensi resiko juga menjadi lebih besar. Selain mobilitas masyarakat, peluang resiko tinggi juga bisa ditentukan oleh faktor geografis, seperti Kabupaten Malaka yang berada di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. Dua aspek mobilitas dan geografis ini, meski bukan satu-satunya penyebab resiko tinggi, tetapi jika diikuti perilaku seks yang tidak sehat, berganti-ganti pasangan seksual, menggunakan Narkoba dengan alat suntik tidak steril, transfusi darah yang terikontaminasi virus HIV, maka menjadi resiko terpapar HIV. 

Adanya kelompok dukungan Sebaya (KDS) bagi ODHA serta membentuk kelompok motivator HIV-AIDS di area menjadi kebutuhan yang harus terus didukung. Upaya tersebut menjadi bagian dari kegiatan untuk mengawal agar keterhentakan kesadaran ini tidak menguap lenyap atau tenggelam bersalam kelupaan kita terhadap bahaya HIV-AIDS. Kebiasaan meremehkan sebuah penyakit berakibat pada besarnya dampak yang diterima kelak. Semakin dasar pentingnya deteksi dini, maka semakin kecil dampak resiko yang diterima. Pentingnya kedasaran ini, bukan hanya yang tidak terpapar atau belum diketahui statusnya terhadap HIV, namun semua orang penting untuk mengetahui, menyadari dan mencegah terpapar HIV-AIDS. Entah bagi yang sudah terpapar HIV, bagi tenaga medis, institusi kesehatan pemerintah, lembaga keagamaan, lembaga sosial, para pekerja, bahkan ibu rumah tangga. Sebab ibu yang baik-baik yang selama ini tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga dan tidak pernah ke mana-mana bisa saja terpapar oleh karena perilaku pasangannya yang berisiko.(*)