Terpicu, Warga Desa Mata Woga Siap Bangun Jamban

By Admin | Friday, 12 February 2018 | 331 views

 

Pemicuan merupakan metode yang digunakan untuk mendorong masyarakat agar berperilaku hidup bersih dan sehat. Metode ini diterapkan dalam strategi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) untuk menghentikan perilaku buang air besar sembarangan (BABS), membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir, mengolah air minum dan makanan rumah tangga sebelum dikonsumsi, mengamankan sampah dan mengamankan limbah cair rumah tangga.

Kegiatan ini dilakukan untuk mengedukasi masyarakat, terutama masyarakat di dusun-dusun atau kampung yang masih banyak perilaku BABS. Pemicuan inilah yang dilakukan Tim STBM Desa Mata Woga, Kecamatan Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah pada 27 Januari 2017. Didampingi Tim STBM Kecamatan, pemicuan dilakukan di Dusun I RW 5 Kampung Waibakul.

Kegiatan diawali dengan perkenalan dan penyampaian maksud serta tujuan oleh Tim STBM Desa Mata Woga. Kemudian dilanjutkan dengan melibatkan masyarakat yang hadir untuk melakukan pemetaan wilayah, tempat tinggal dan lokasi BAB. Masyarakat diajak untuk membuat garis dusun dan batas kampung. Warga yang hadir pun menandai lokasi rumah masing-masing dengan jenis daun atau benda yang disepakati. Pemetaan ini dilakukan untuk mengetahui atau melihat kondisi sanitasi dan perilaku Buang Air Besar di masyarakat.

Setelah itu, peserta diminta berdiri di titik rumah masing-masing yang sudah ditandai menggunakan daun/benda yang disepakati. Lalu, fasilitator menanyakan, “Dimana lokasi warga biasa Buang Air Besar?” Mereka pun diminta menandai lokasi/titik tersebut, di jamban, kebun atau semak-semak di sekitar rumah. Selanjutnya, kepada warga yang masih BAB di kebun atau semak-semak di sekitar rumah diminta untuk menghitung rata-rata volume tinja per hari, per bulan, bahkan per tahun.

Setelah selesai menghitung dan mengetahui banyaknya tinja yang berserakan, sejenak warga terdiam. Fasilitator Tim STBM desa pun mulai “memicu” warga dengan menanyakan, “Sudah berapa lama kejadian ini berlangsung?”, “Bagaimana perasaan warga dengan keadaan wilayah yang dipenuhi tinja?”.  

Salah satu dari warga yang hadir menjawab, sebenarnya sangat tidak nyaman, karena selain bau tidak sedap, saat BAB dia harus mencari tempat tersembunyi agar tidak terlihat orang lain. Peserta lain mengungkapkan, dia takut ada ular atau binatang sejenis yang berbahaya. “Kondisi ini juga memungkinkan terjadinya penyebaran penyakit, karena tinja yang berserakan apabila dihinggapi lalat dan lalat tersebut hinggap di makanan yang kita makan, maka bakteri atau kuman dari tinja akan masuk ke tubuh kita. Sehingga kita bisa sakit perut atau diare,” ungkap warga.

Fasilitator bertanya lagi kepada warga, “Apakah warga masih mau buang air besar di sembarang tempat?” Serentak warga yang hadir menjawab, “Tidak mau!!”. Kemudian fasilitator bertanya, “Jadi, apa yang harus dilakukan?” Beramai-ramai warga menjawab, “Harus membuat jamban.”

Lalu warga mulai menyepakati akan membangun jamban. Proses ini dilanjutkan dengan mengisi lembar komitmen yang ditandatangani oleh seluruh warga yang hendak memperbaiki sanitasi di rumahnya, khususnya jamban keluarga.

Salah satu warga yang telah dipicu mengatakan bahwa pemicuan tersebut sangat menyentuh harga dirinya dan beberapa warga yang selama ini masih BABS. Dia menyatakan selama ini masih berperilaku BABS karena mengikuti kebiasaan masyarakat lainnya. Bahkan, ada beberapa tokoh masyarakat yang seharusnya memberikan contoh yang baik tetapi justru masih melakukan kebiasaan BABS. “Sebenarnya air dan tanah berbatuan bukanlah alasan utama bagi masyarakat untuk BABS tetapi lebih karena masih banyak warga yang melakukan BABS dan lainnya mengikuti,” ungkapnya.

Setelah mendapatkan penjelasan dari tim pemicuan, dirinya dan puluhan warga berkomitmen akan membangun jamban keluarga secara swadaya dan gotong royong. Mengingat ada banyak bahan lokal di sekitar kampung yang bisa dimanfaatkan untuk membuat jamban dan masyarakat Sumba sudah memiliki budaya gotong royong sejak turun temurun.

Hal ini sejalan dengan konsep dan prinsip STBM yang merupakan pendekatan untuk merubah perilaku sanitasi dan higiene yang dilakukan tanpa subsidi. Tetapi mendorong masyarakat untuk membangun sarana sanitasi secara swadaya berdasarkan inisiatifnya sendiri. Pembangunan sarana sanitasi yang dilakukan oleh masyarakat secara mandiri atau dengan kata lain tidak ada unsur paksaan dari pihak manapun, diharapkan dapat dipergunakan dan dirawat dengan baik.

Masyarakat juga dibebaskan untuk memilih opsi sarana sanitasi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka serta berdasarkan kemampuan. Namun tetap memperhatikan standart kesehatan, seperti lubang tinja yang harus tertutup, jarak lubang tinja dengan sumber air minimal 10 meter, tempat pijakan jamban yang kuat, lubang jamban harus tertutup. Hal ini untuk mencegah pencemaran dan memutuskan rantai penularan penyakit melalui serangga.

Usai melakukan kegiatan pemicuan, Herman D. Sipul sebagai Kepala Desa dan David B. Gela selaku ketua Tim STBM desa Mata Woga bersama tim lainnya akan melanjutkan dan menuntaskan pemicuan di dua dusun lainnya (dusun II dan dusun III). Semua kegiatan tersebut dilakukan untuk mengedukasi dan menyadarkan warga agar mengubah perilakunya terutama masyarakat yang masih BABS supaya Buang Air Besar pada tempatnya di jamban keluarga. Tujuannya adalah untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat serta mengurangi resiko penyakit berbasis lingkungan, seperti penyakit diare, kulit, dan cacingan.