Kepemimpinan Selaras STBM

By Admin | Friday, 12 February 2018 | 344 views

 

Petrus Adi Papa hari itu berjalan kaki dari satu rumah ke rumah lainnya, dari satu kampung ke kampung lainnya. Petrus adalah Kepala Desa Pero, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya. Dia bersama aparatur desa dan kader STBM desa sedang melakukan monitoring sekaligus menggugah kembali kesadaran warga agar mau berperilaku hidup bersih dan membangun jamban untuk BAB.

Bukan hanya kepada masyarakat umum, seluruh aparatur desa, Ketua RT, Ketua RW, Kepala Dusun, BPD, anggota Linmas, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama dan para guru juga didorong untuk bisa menjadi teladan dan memberikan contoh hidup bersih dan sehat.

Desa Pero merupakan desa pemekaran dari Desa Kalembuweri tahun 2016. Petrus Adi Papa sendiri merupakan Kepala Desa pertama di desa itu yang dipilih secara langsung oleh masyarakat dan menggantikan Pejabat Sementara (PjS) Kepala Desa Soleman Ngongo Timbu. Desa Pero merupakan salah satu dari 3 desa di Kecamatan Wewewa Barat yang menjadi sasaran program SEHATI. Walaupun Desa Pero adalah desa yang baru dimekarkan tetapi dukungan dan partisipasi aktif Kepala desa serta aparat desa dalam kegiatan STBM sangat tinggi.

Bagi Petrus Adi Papa, STBM adalah program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Menurut Petrus, masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang sehat. Artinya apabila seseorang dalam kondisi sehat maka ia bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya serta meraih kesejahteraan. 

Beberapa kegiatan STBM yang sudah dilaksanakan di desa Pero antara lain, pembentukan Tim STBM desa, pembekalan tim STBM Desa dan pengambilan data awal kondisi sanitasi (baseline). Bahkan, sudah ada perencanaan program STBM dalam perubahan anggaran 2016 desa untuk kegiatan pemicuaan, promosi dan monitoring.

Selama tiga hari, mulai 20 Februari, dilanjut 23 Februari dan 3 Maret 2017, proses monitoring dilakukan di tiga dusun yang ada. Hasil monitoring sangat memuaskan. Hampir seluruh rumah yang ada di Desa Pero sudah memiliki sarana sanitasi dan sudah menggunakannya. Di Dusun I, dari total 66 rumah dengan 82 KK, ada 57 rumah (86,4%) yang sudah memiliki jamban dan 9 rumah (13,6%) masih dalam proses pengerjaan jamban. Di Dusun II dari total 61 rumah dengan 76 KK, sudah ada 49 rumah (80,3%) yang memiliki jamban dan 12 rumah (19,7%) yang belum memiliki jamban tetapi sudah berkomitmen untuk membuat jamban. Sedangkan di Dusun III dari total 91 rumah yang ditempati 137 KK, 85 rumah (93,4%) sudah memiliki jamban dan tinggal 6 rumah (6,6%) yang belum memiliki jamban.

Selama kegiatan monitoring, Kepala Desa juga memberikan motivasi kepada keluarga yang dijumpai agar memanfaatkan jamban yang sudah dibangun. Dia mengingatkan kalau pembuatan jamban tidaklah mudah, harus kerja keras menggali lubang di tanah yang berbatuan. “Selain itu, dengan menggunakan jamban untuk BAB maka dapat dirasakan lebih nyaman, aman, lebih bermartabat dan tidak mencemari lingkungan,” jelasnya.

Bagi rumah tangga yang belum memiliki jamban, Petrus mengingatkan ada banyak resiko yang dapat ditimbulkan akibat BABS, antara lain merendahkan martabat sebagai manusia. Disamping itu BABS juga dapat mengundang terjadinya kriminalitas dan tindakan asusila. Bahkan, perilaku BABS sangat beresiko mencemari udara, tanah, air dan menjadi sumber penularan penyakit. 

Setelah melakukan monitoring, masyarakat diajak duduk bersama di Bale-bale untuk merefleksikan hasil monitoring serta mendiskusikan masalah dan kendala yang dihadapi. Dari situlah lahir komitmen bersama antara masyarakat dan aparat desa untuk siap mendeklarasikan diri sebagai desa STBM pada tahun 2017.

Melalui terjun langsung memantau implementasi STBM dari rumah ke rumah, Petrus ingin menunjukkan bahwa sebagai Kepala Desa harus bisa menjadi panutan bagi warganya. “Seorang pemimpin adalah contoh dan teladan bagi masyarakatnya untuk mencapai kesejahteraan,” ungkapnya.

Sebagai Kepala Desa, Petrus selalu aktif dalam kegiatan pemicuan dan dalam bentuk pemutaran film sanitasi. Termasuk terlibat aktif bersama kader STBM dalam melakukan monitoring ke rumah-rumah warga. Mungkin bagi sebagian besar pemimpin di desa, hal tersebut dianggap sebagai pekerjaan yang sepele. Namun, bagi Kepala Desa Pero yang merasakan masih banyak kebiasaan buruk warga masyarakat di wilayahnya, memperbaiki sanitasi serta perilaku hidup bersih diyakini akan meningkatkan derajat kesehatan warga dan kesejahteraan bisa diraih bersama.

Petrus melihat sendiri, dalam kegiatan pemicuan partisipasi dan antusiasme serta komitmen masyarakat sangat tinggi untuk memperbaiki sanitasi. Hal ini karena metode pemicuan tidak menggurui masyarakat untuk melakukan program pemerintah, juga tidak menjanjikan bantuan dari pemerintah.

Melalui pemetaan letak rumah, letak sumber air dan lokasi BAB, warga bisa bercerita banyak hal tentang kebiasaan yang disadari kurang sehat. Banyak faktor yang menjadi alasan warga antara lain, kesulitan air dan tanah berbatuan serta ingin berbagi berkat dengan ternak.

Melalui pemicuan, peserta bisa diajak untuk menghitung volume tinja yang selalu bertambah karena setiap warga rutin BAB setiap hari. Hal ini dapat menggugah kesadaran atau daya nalar peserta bahwa Buang Air Besar Sembarangan (BABS) merupakan perilaku beresiko terhadap pencemaran lingkungan. Warga juga bisa bercerita dampak sosial yang negatif dari kebiasaan BABS, antara lain beresiko terjadi pelecehan seksual di lokasi yang sepi dan tidak aman.

Apabila masih ada peserta yang belum tergugah kesadarannya maka digunakan metode kontaminasi air minum. Metode ini memberikan visualisasi terkait proses pencemaran air dan memicu rasa jijik serta perasaaan takut sakit. Peserta memahami kotoran manusia mengandung bakteri e-coli yang dapat membahayakan kesehatan manusia, seperti diare, terutama bagi balita dan lansia yang merupakan kelompok rentan.

Melalui metode pemicuan, peserta tergugah perasaan dan kesadarannya serta membuat komitmen bersama untuk memperbaiki kebiasaan sebelumnya yang kurang sehat. Pernyataan untuk merubah perilaku hidup bersih dituangkan dalam lembar komitmen untuk membangun sarana sanitasi. Lembar komitmen tersebut  berisi nama kepala keluarga, tanggal untuk membangun sarana sanitasi (jamban) dan tanggal menyelesaikan pengerjaan pembuatan jamban. Bahkan peserta membubuhi tanda tanggal sebagai bentuk tanggungjawab moral yang diketahui oleh Kepala Desa yang mengesahkan lembaran komitmen warga. 

Partisipasi dan antusias warga dalam kegiatan pemicuan inilah yang telah membangkitkan naluri kepemimpinan Petrus Adi Papa untuk memantau dan mengawal secara langsung tindaklanjut pasca pemicuan. Semangat warga tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja, perlu dijaga dan terus dipupuk. Inilah gaya kepemimpinan desa yang selaras dengan strategi STBM.