DUKUNGAN SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN KESEHATAN IBU DAN ANAK

By Admin | Friday, 12 February 2018 | 196 views

 

Seorang ahli, Diamtteo (1991) mendefinisikan dukungan sosial sebagai dukungan atau bantuan yang berasal dari orang lain seperti teman, tetangga, teman kerja dan orang- orang lainnya. Sementara Gottlieb (dalam Smet, 1994) menyatakan dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasehat verbal maupun non verbal, bantuan nyata, atau tindakan yang didapatkan karena kehadiran orang lain dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pihah penerima. Ada pula ahli bernama Sarafino (2006) yang menyatakan bahwa dukungan sosial mengacu pada pemberian kenyamanan pada orang lain, merawatnya atau menghargainya. Jadi, dapat dikatakan yang dimaksud dukungan sosial yaitu kenyamanan fisik dan psikologis, perhatian, penghargaan, maupun bantuan dalam bentuk yang lainnya yang diterima individu dari orang lain ataupun dari kelompok.

Dukungan sosial diperlukan dalam kesehatan untuk meningkatkan harga diri seseorang (self esteem), meningkatkan pemahaman tentang kesehatan, mendukung kebutuhan finansial dan peralatan, serta untuk menjalin persahabatan. Sumber dukungan sosial ini bisa berasal dari keluarga, sahabat, tetangga, kerabat, rekan kerja, petugas kesehatan ataupun atasan. Berdasarkan teori (Lewin, 1974; Marcus, 2000), terjadinya perubahan pada individu atau sekelompok individu mengikuti tiga langkah yang disebut Lewin’s three steps change model  yaitu : pertama, Unfreezed, langkah untuk mulai membuka diri, mengurai kebiasaan dan menghancurkan kebiasaan; kedua, Movement yaitu langkah untuk mulai mengkonsep permasalahan, mengumpulkan informasi kekuatan untuk berubah, menyusun alternatif solusi dan membangun konsep perubahan; dan ketiga, Refreezing yaitu langkah konfirmasi dukungan psikologis dan membangun kepercayaan diri dalam menggunakan kebiasaan baru.

Berdasarkan teori tersebut, langkah awal yang dilakukan untuk membangun dukungan sosial bagi ibu hamil, ibu menyusui dan balita yaitu dengan pendidikan penyadaran tentang perawatan kehamilan dan pasca persalinan (Antenatal Care dan Postnatal Care), perawatan bayi, Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan sebagainya melalui kelas ibu hamil dan pasangannya, pelatihan ke TKD serta sosialisasi ke masyarakat. Masyarakat pun mulai membuka diri sehingga ibu hamil ada kesadaran untuk memeriksakan kehamilannya dan melahirkan di fasilitas pelayanan kesehatan, TKD yang mengikuti pelatihan bisa lebih jelas memahami prosedur pelaporan untuk penanganan kasus emergency terkait dengan persalinan atau pasca persalinan dan pemerintah desa pun memiliki komitmen ikut berperan mengatasi hambatan-hambatan dalam pelayanan KIA di desanya.

Maka muncullah dukungan sosial nyata dari masyarakat terhadap ibu dan balita, seperti yang dilakukan masyarakat di wilayah Malaka, terutama di desa Fafoe, Oanmane dan Maktihan yang mengumpulkan iuran Rp 2.000 per keluarga yang diperuntukkan untuk transportasi ibu melahirkan dan makanan tambahan bayi/balita di posyandu. Ada pula kegiatan arisan bersama antara TKD, Bidan desa dan aparat pemerintah desa di Oanmane dan Maktihan yang sebagian uang arisan digunakan pembelian bibit tanaman obat, pelayanan makanan tambahan bayi/balita di posyandu dan biaya transportasi (ambulan desa) bagi ibu melahirkan yang tidak mampu. Di desa Leonklot dan Umalawain ada dukungan bagi peningkatan gizi anak-anak dalam bentuk pengolahan bahan pangan lokal untuk makanan tambahan balita di posyandu.

Kader Posyandu di desa Oanmane mengaktifkan kembali pelayanan Sistem 5 Meja untuk mendukung pelayanan balita. Pelayanan Sistem 5 Meja di posyandu ini terdiri dari Meja 1 Pendaftaran balita, ibu hamil, ibu menyusui; meja 2 Penimbangan balita; Meja 3 Pencatatan hasil penimbangan; Meja 4 Penyuluhan dan pelayanan gizi bagi ibu balita, ibu hamil dan ibu menyusui; dan Meja 5 Pelayanan kesehatan, KB, imunisasi dan pojok oralit. Di desa Oanmane, Maktihan dan Umalawain mengembangkan kebun tanaman obat di pekarangan rumah kader TKD untuk mendukung kesehatan ibu, anak dan keluarga. Di desa Maktihan terbangun dukungan sosial berupa pemeriksaan golongan darah pada masyarakat untuk persiapan jika sewaktu-waktu ada kebutuhan donor darah bagi ibu melahirkan. Ada 103 orang yang melakukan cek golongan darah. Pemerintah desa di Maktihan juga mengalokasikan dana desa untuk mendukung pengadaan peralatan pengolahan pangan lokal yang akan digunakan untuk kegiatan di posyandu. Pemberian makanan tambahan menggunakan bahan pangan lokal untuk bayi/balita gizi buruk ini bisa menambah selera makan bayi balita serta memotivasi untuk rutin datang ke Posyandu.

Di wilayah Alor di desa Wolwal Selatan ada dukungan sosial berupa tabungan ibu hamil (minimal 5 ribu rupiah) yang dikelola oleh Bidan desa dan TKD. Di desa Pintumas dan Kafelulang keluarga ibu hamil menyepakati tabungan ibu bersalin dengan menabung minimal 5 ribu rupiah. Pemerintah desa di Pintumas, Probur dan Kafelulang  membuat kebijakan mewajibkan persalinan di fasilitas kesehatan. Di Pintumas, kebijakan ini didukung dengan dikeluarkannya surat keputusan Pemerintah Desa dan dipublikasikan melalui RT, RW, dusun serta disampaikan melalui mimbar gereja dan masjid. Saat ini, sudah ada 8 persalinan di Pustu dari sebelumnya belum pernah ada. Di desa Probur sudah ada 4 ibu hamil yang melakukan persalinan di pustu dari sebelumnya tidak ada. Sementara di desa Kafelulang sudah ada 2 persalinan di Poskesdes.

Di desa Kafelulang, masyarakat mengumpulkan dana untuk pembelian tandu pengangkut bagi ibu hamil yang akan melahirkan di Polindes karena jaraknya jauh dari pemukiman penduduk. Dana dikumpulkan dengan menjual ubi kayu, petatas dan pisang ke kota Kalabahi. Hasil penjualan terkumpul dana sebesar Rp 425.000 dan selanjutnya dengan ditambah dana kas desa sebesar Rp 575.000 bisa untuk membeli tandu. Sudah ada ibu hamil yang diselamatkan dengan tandu secara gotong royong pada 18 Desember 2016 sekitar pukul 17.00 WITA dan selanjutnya dibawa menggunakan ambulan ke puskesmas Moru. Ibu dan bayi kembarnya selamat.

Di desa Taman Mataru, Mataru Timur, Mataru Utara dan Kamaifui ada dukungan orangtua dalam bentuk ubi kayu, pisang dan jagung untuk pembuatan dan pemberian makanan tambahan bagi balita gizi kurang dan gizi buruk di posyandu. Bahan yang terkumpul untuk pembuatan bubur bayi dan kue kukus. Masyarakat di desa Kamaifui membuatkan ruangan kecil di samping Polindes pada 14 April 2016. Pembuatan ruangan ini ditujukan bagi petugas kesehatan agar betah tinggal di desa dan bisa memberikan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil maupun masyarakat umum.

Di wilayah Sumba Timur di desa Moubokul terbentuk kegiatan simpan pinjam setiap bulan sebesar Rp 10.000 per keluarga yang ditujukan khusus untuk ibu yang akan bersalin di Puskesmas dan orang sakit. Sudah terkumpul Rp 700.000 dari 28 keluarga. Di desa Tanatuku dan Palakahembi masyarakat menanam pohon kelor untuk dibagikan kepada ibu hamil, orang tua bayi dan balita.

Meski dukungan sosial bagi ibu dan balita belum muncul di semua desa mitra, namun harapan akan terjadinya replikasi di desa-desa lainnya akan terjadi. Selain itu, dukungan sosial yang ada juga diarahkan agar lebih terkoordinasi dengan baik agar semakin relevan dengan kebutuhan ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Lebih jauh lagi, dukungan sosial akan terus berkelanjutan dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang memberi kepedulian terhadap ibu dan anak.*