INISIATIF KESEHATAN UNTUK MENANGGULANGI PENYAKIT MENULAR

By Admin | Friday, 12 February 2018 | 328 views

 

Pembangunan kesehatan komunitas dalam upaya menanggulangi penyakit menular, penyakit tidak menular, penyakit berbasis lingkungan maupun penggunaan zat adiktif, semuanya memerlukan keterlibatan multi pihak untuk mempercepat penanganan. Pihak-pihak tersebut antara lain, meliputi pembuat kebijakan/pemerintah, penyedia layanan kesehatan, sektor non kesehatan dan masyarakat sendiri. Masyarakat atau komunitas adalah suatu kelompok spesifik orang yang biasanya hidup di daerah geografis tertentu, yang berbagi dalam nilai dan norma, serta dirancang dalam suatu struktur sosial tertentu. Mereka berkembang menjadi masyarakat dalam suatu kurun waktu.

Menurut Dr. dr. Bagoes Widjinarko MPH., MA., selaku Ketua Pengurus YAKKUM, dalam diskusi reflektif tentang “Strategi Membangun Sistem Dukungan Sosial Berbasis Aset Lokal untuk Meningkatkan Kesehatan Masyarakat” di Kopeng tanggal 17 Januari 20117, agar penanggulangan penyakit bisa efektif, masyarakat perlu keberdayaan mengenali masalah mereka, mampu mengenali potensi mereka untuk berpartisipasi menyelesaikan masalah, memiliki kepercayaan diri dan bersedia untuk berpartisipasi. “Masyarakat juga perlu menaruh kepercayaan pada pihak lain, seperti penyedia layanan kesehatan dan pemerintah,” terangnya.

Di pihak lain, pemerintah sebagai pembuat kebijakan perlu memberikan dukungan legalitas dan menciptakan dukungan regulasi yang kondusif serta berupaya untuk memandirikan masyarakat. Sementara penyedia layanan kesehatan mesti memiliki kesadaran bahwa masyarakat memiliki kemampuan sehingga mereka tidak boleh “mendikte” dan memaksakan kehendak kepada masyarakat. “Provider atau penyedia layanan kesehatan agar bisa “meletakkan tongkat komando” dan lebih banyak memfasilitasi,” tegasnya.

Paparan tersebut sejalan dengan strategi yang digunakan CD Bethesda dalam mengajak masyarakat untuk mengenali masalah kesehatan di desanya melalui Participatory Rural Appraisal (PRA) atau penilaian desa secara partisipatif serta mengenali potensi dan kekuatan masyarakat melalui metode SALT, telah mampu membangun kepercayaan diri masyarakat dan kesediaan untuk berpartisipasi aktif dalam pelayanan kesehatan. Perubahan penting yang dapat dipantau yaitu meningkatnya secara signifikan peran aktif masyarakat, terutama melalui TKD dan pemerintah desa dalam upaya penyadaran dan perubahan perilaku terkait dengan penanggulangan penyakit menular. Misalnya, kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan, melaporkan dan mengajak suspek TB untuk diperiksa dahaknya, kesadaran dari masyarakat untuk memeriksakan diri jika ada gejala penyakit menular, melaporkan dengan segera kasus-kasus emergency dan membuat kesepakatan-kesepakatan di komunitas untuk mendukung penanganan penyakit menular.

Banyak kegiatan kesehatan yang sudah dilakukan oleh masyarakat, merupakan murni inisiatif dari masyarakat yang dikerjasamakan dengan Puskesmas maupun pemerintah desa. Termasuk Peringatan Hari TB Sedunia tanggal 24 Maret 2016, baru pertama kali diadakan di kabupaten Malaka, Alor dan Sumba Timur atas inisiatif dari TKD dan CD Bethesda. Peringatan Hari TB tahun 2016 di tiga wilayah ini dilakukan melalui kampanye terbuka, penyebaran leaflet dan sosialisasi di pasar-pasar sebagai tempat bertemunya banyak orang dari beberapa desa. Kegiatan ini mampu mendorong keterlibatan Pukesmas dan aparat pemerintah desa, selain TKD sendiri.

Inisiatif kesehatan untuk menanggulangi penyakit menular muncul dalam bentuk yang beragam. Di wilayah Malaka, ada inisiatif masyarakat di desa Laleten untuk mengadakan sosialisasi penyakit menular diare dan malaria sekaligus pengambilan darah malaria bagi semua masyarakat. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama antara TKD, Pemdes dan Puskesmas setempat.

Di desa Leonklot, Maktihan dan Fafoe, dalam pertemuan desa, masyarakat berinisiatif mengadakan Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan melakukan koordinasi dengan Puskesmas untuk penjaringan masyararakat yang dicurigai TB, termasuk pendampingan pemeriksaan di puskesmas dan rongent di rumah sakit di Betun dan Atambua. Di desa Oanmane, masyarakat berinistaif untuk mengadakan penjaringan dan pendataan suspek TB secara terus-menerus sampai tidak ada lagi yang diientifikasi menderita TB. Inisiatif pencegahan penyakit menular dengan kerja bakti untuk menjaga kebersihan lingkungan dilakukan melalui kerja bakti setiap hari Jumat di setiap dusun di 12 desa mitra. Di desa Naas sudah ada arisan Jamban Sehat untuk mempercepat kepemilikan jamban di semua keluarga.

Di wilayah Alor, muncul inisiatif masyarakat untuk melakukan sosialisasi Filaria dan Kusta di desa Probur Utara. Kegiatan ini difasilitasi oleh Dinas Kesehatan dan diikuti orang yang suspect kusta, pasien kusta dan keluarga, TKD, Pemdes dan Bidan Desa. Melihat gejala klinis yang muncul, masyarakat selanjutnya berinisiatif untuk pemeriksaan massal penyakit kusta. Kegiatan ini atas permintaan warga melalui surat permohonan yang dikeluarkan Pemerintah Desa ke Dinas Kesehatan Kabupaten Alor dan Puskesmas Moru. Petugas Dinkes dan Puskesmas pun datang melakukan pemeriksaan ke sekolah dasar, SMP dan anggota masyarakat tanggal 25 Oktober 2016. Hasilnya dari 278 yang mengikuti pemeriksaan terdapat 11 orang dinyatakan positif dan 6 suspek perlu pemantauan lebih lanjut.

Sementara di desa Probur Utara, Taman Mataru, Mataru Utara dan Kamaifui, setelah dilakukan penyuluhan penanggulangan TBC dan malaria, ada inisiatif masyarakat dalam upaya pencegahan malaria dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Kegiatan ini merupakan kesepakatan dalam pertemuan di kantor desa Probur Utara pada 28 September 2016 yang diikuti kader TKD, Pemdes dan Petugas kesehatan. PSN sendiri dilaksanakan di dusun Lola pada bulan berikutnya setelah pertemuan. Di Taman Mataru, kerja bakti lingkungan dilaksanakan tanggal 3 Oktober 2016 dan di Mataru Utara tanggal 22 Oktober 2016. Di desa Kamaifui, PSN diadakan tanggal 20 November 2016 dengan melibatkan masyarakat, petugas kesehatan, dan staf CD Bethesda.

Di desa 7 desa (Pintumas, Probur, Probur Utara, Taman Mataru, Mataru Timur, Mataru Utara dan Kafelulang), masyarakat bersama TKD dengan didukung petugas kesehatan berinisiatif mengadakan pendataan suspek TB dan pemeriksaan laboratorium. Inisiatif kesehatan di Pintumas muncul saat pertemuan desa yang dihadiri kader kesehatan, tokoh masyarakat, Ketua RT dan RW, Pemdes dan petugas kesehatan Pustu. Informasi rencana kegiatan ini secara resmi dikeluarkan oleh Pemerintah Desa dan dipublikasikan melalui gereja dan masjid. Saat pemeriksaan tanggal 29 – 30 September 2016, ada 22 suspek TB yang diambil dahaknya oleh petugas laboratorium Puskesmas Moru dan hasilnya 1 orang dinyatakan positif. Dalam pemeriksaan suspek TB di Probur pada 9-10 September 2016, petugas dari Puskesmas Moru menemukan 1 orang yang positif menderita TB dari 43 suspek yang diperiksa. Screening TB di desa Taman Mataru bagi warga yang mengalami gejala batuk lama lebih dari 2 minggu dilaksanakan tanggal 3 dan 4 Oktober 2016. Hasilnya dari 23 orang yang periksa, ada 2 orang yang dinyatakan positif TB (BT+). Dalam kegiatan ini diselingi pemutaran film tentang kisah kader yang aktif dalam penanggulangan TB.

Inisiatif kesehatan masyarakat di Mataru Timur muncul dalam pertemuan desa pada 4 November 2016 untuk melakukan sosialisasi TB dan dilanjutkan screening. Sosialisasi dilaksanakan tanggal 23 November 2016 dan screening tanggal 23- 24 November 2016. Hasil pemeriksaan dahak terhadap 16 suspek, semuanya dinyatakan negatif. Demikian juga pemeriksaan di desa Kafelulang tanggal 15 – 16 September 2016 dan di desa Probur Utara tanggal 5 – 6  November 2016, dari 26 suspek, semua negatif. Sementara di desa Mataru Utara, screening TB dilaksanakan pada 14 November 2016 dan hasilnya dari 9 orang yang diperiksa dahaknya ada 1 orang BTA+.

Ada juga kasus diare di desa Mataru Barat yang dialamisekitar 20 anak. Hal ini membuat masyarakat kuatir dan akhirnya pada 11 Agustus 2016, melalui Pemerintah Desa, mereka berinisiatif mengirimkan surat ke Puskesmas Mainang meminta dikirimkan petugas kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan langsung ke desa. Kepala Puskesmas pun segera merespon dengan mengirimkan 4 orang petugas kesehatan untuk melakukan pelayanan pemeriksaan dan pengobatan pada tanggal  24 Agustus 2016.

Sedangkan di wilayah Sumba Timur, inisiatif untuk melakukan gotong royong Jumat bersih dilaksanakan di desa Maka Menggit, Kambatatana, Praikarang dan Moubokul dalam rangka menanggulangi diare. Di Kambatatana dan Praikarang masyarakat membuat WC umum. Masyarakat di kelurahan Watumbaka dan desa Palakahembi berinisiatif mengadakan sosialisasi dan penjaringan suspek TB. Hasilnya dari 57 suspek, hasilnya 7 orang (12%) dinyatakan positif TB. Salah satu faktor yang mempengaruhi masih ditemukannya kasus TB dan penyakit menular lainnya di beberapa desa di Sumba Timur yaitu padatnya penghuni rumah. Hal ini karena budaya belis yang belum lunas dalam pernikahan adat sehingga memaksa keluarga baru untuk tinggal serumah dengan orang tua dan didukung faktor kemampuan ekonomi yang rendah. Selain itu, tentu saja faktor kurangnya pengetahuan tentang cara pencegahan penularan penyakit TB dan kesadaran menjaga kesehatan lingkungan. Oleh sebab itu, untuk menekan angka kasus TB, malaria dan penyakit menular lainnya, ke depan perlu kerjasama semua stakeholder yang terkait untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat serta penanganan secara cepat kasus yang ada.*