Notice: Undefined property: System::$pageID in /home/chicdb11/public_html/cni-system/system.php on line 1167

Dampak dan Akibat Bullying Bagi Kesehatan Mental

By Admin | Friday, 10 August 2015 | 4923 views

 

Remaja beberapa tahun terakhir cukup sering mendengar istilah bully atau bullying,disadari atau tidak tindakan ini sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan terkesan menjadi “warisan” turun temurun. Bullying merupakan tindakan yang kasar yang ditujukan kepada seseorang yang dapat menimbulkan dampak-dampak tertentu, kebanyakan menimbulkan efek negatif. Perilaku bully dapat dikategorikan dalam bebagai bentuk diantaranya adalah bentuk verbal, fisik, cyber, emosional, dan diam (dari berbagai sumber). Namun semuabentuk tindakan bully dapat merugikan korban, bahkan secara berkepanjangan.

Istilah Bullying belum ada padanan kata  yang tepat dalam bahasa Indonesia (Susanti, 2006). Bullying berasal dari kata bully, menurut kamus Inggris-Indonesia karangan Echols dan Shadily bully diartikan sebagai: “bully/’bulie/ kb. (j.–lies) penggertak, orang yang mengganggu orang yang lemah.–ks. Inf.: baik, bagus, kelas satu, nomor wahid. –kkt. (bullied) menggertak, mengganggu.” Dalam bahasa Indonesia yang seringkali dipakai masyarakat  untuk menggambarkan fenomena Bullying antara lain penindasan, penggencetan, perpeloncoan, pemalakan, pengucilan, atau intimidasi (Susanti, 2006). Sehingga bullying sama dengan kejahatan.

Coloroso (2006: 44-45) menyebutkan, bullying akan selalu melibatkan beberapa unsur berikut : (a) Ketidakseimbangan kekuatan (imbalance power): pelaku bullying bisa saja orang yang lebih tua, lebih besar, lebih kuat, lebih mahir secara verbal, lebih tinggi secara status sosial, atau berasal dari ras yang berbeda; (b) keinginan untuk mencederai (desire to hurt): bukan kecelakaan atau kekeliruan, bukan ketidaksengajaan dalam pengucilan korban, menyebabkan kepedihan emosional atau luka fisik, melibatkan tindakan yang dapat melukai, dan menimbulkan rasa senang di hati pelaku saat menyaksikan penderitaan korbannya; (c) ancaman agresi lebih lanjut: tidak dimaksudkan sebagai peristiwa yang hanya terjadi sekali saja, tapi juga repetitif atau cenderung diulangi; dan (d) teror: muncul ketika ekskalasi bullying semakin meningkat, suatu kekerasan sistematik yang digunakan untuk mengintimidasi dan memelihara dominasi. Teror bukan hanya sebuah cara untuk mencapai bullying tapi juga sebagai tujuan bullying.

“Kejadian sehari-hari yang dapat dianggap tindakan Bullying:  Memanggil korban dengan nama ejekan seperti gendut, kerdil dan sebagainya; Kontak fisik yang berpotensi mencederai; Menjadikan sesorang sebagai subjek rumor; Mengancam korban; Mengisolasi korban secara sosial; Mengambil barang barang korban secara paksa, dan lain sebagainya” (Abrori, M.Kes, 2015. www.abrormkes.blogspot.com).

Tindakan bullying dapat melahirkan pem-bully baru, maksudnya korban bullying berpotensi menjadi pribadi yang keras, agresif, menyukai kekerasan dan melakukan tindakan yang pernah dialaminya kepada orang lain. Yang lebih parah lagi dapat menyebakan tindakan kriminal.

Seseorang dapat mengalami berbagai masalah psikologis seperti resah, gelisah, stres, dan depresi yang berkepanjangan, sesorang juga dapat menjadi seseorang yang menutup diri dari lingkungannya. Rasa takut yang berlebihan, susah tidur, sedih dan menangis.

Korban bullying juga dapat mengalami masalah sosial seperti tidak percaya dengan orang lain, enggan untuk terlibat dalam suatu komunitas, tidak mau sekolah,berdiam diri di rumah, dan tidak mau keluar dari zona nyaman. Korban cenderung mengalami trauma baik disadari maupun tidak disadari.

Setelah mengetahui apa itu bullying dan dampaknya, mari bersama-sama untuk berani katakan “TIDAK” pada bullying. Jangan jadi pembully jangan mau dibully.