Sehat Tanpa Obat, Segar Tanpa Dokter

28 Juli 2020 | Cerita | 288 | Alfons dan Marmi

Pernahkah kita membaca sebuah pernyataan yang menyatakan “sehat tanpa obat, segar tanpa dokter, gemuk tanpa jamu. Betapa kesehatan dan kebugaran fisik menjadi impian bagi setiap insan. Ibu Dorkas Ndai Bida adalah salah satu anggota Tim SALT di Kelurahan Watumbaka kecamatan Pandawai Sumba Timur, yang sejak tahun 2015 menjadi Kader Kesehatan. Perempuan paruh baya ini memang memiliki hobi menanam. Pengenalan dan Pengolahan Obat Tradisional yang didapatkannya melalui UPKM/CD Bethesda YAKKUM area Sumba Timur memberikan penyadaran mendasar, bahwa dengan membudidayakan tanaman obat tradisional, maka ketergantungan dengan obat-obat medis dapat dihindarkan.

Melalui Pengenalan dan Pengolahan Obat Tradisional memberikan pemahaman kepada Dorkas bahwa ternyata selama ini aneka tanaman yang dipelihara banyak manfaatnya, seperti kumis kucing, bunga patah tulang, jahe, tumbuh daun, daun ubi kanada, bunga piring, pohon mimba dan masih banyak tanaman lainnya. Semangat membudidayakan tanaman obat tradisional semakin membara dalam diri Dorkas. Pengalaman yang sudah dibuktikan berulang-ulang khasiatnya adalah tanaman patah tulang. Dorkas mengawali ceritanya, dia memiliki tetangga yang menderita penyakit kanker ganas. Tetangganya tersebut sudah berobat ke rumah sakit, tetapi terpaksa dipulangkan, karena sudah tidak bisa ditangani lagi. Berbekal pengetahuannya, Dorkas memberikan minum satu tetes getah dari tanaman patah tulang yang dicampurkan ke dalam air minum kepada tetangganya. Selang 4 hari kemudian, mereka pergi periksa ke rumah sakit dan hasilnya benjolan tersebut semakin menurun. Perasaan haru dan bahagia menyelimuti hati kami saat melihat hasil pemeriksaan sudah ada perubahan. Maka, sejak saat itu pemberian minuman yang dicampur dengan satu tetes getah dari tanaman patah tulang rutin diberikan setiap hari satu kali dan juga rutin untuk melakukan pemeriksaan ke rumah sakit, hingga pada akhirnya tetangganya dinyatakan sembuh oleh dokter. Dorkas menuturkan, “Informasi khasiat dari tanaman itu saya dapat dari Dokter Matius, seorang dokter ahli bedah di Kabupaten Sumba Timur, dan akhirnya saya memutuskan untuk membudidayakan tanaman tersebut”. “Tanaman kaca piring juga saya sering gunakan apabila anak-anak saya demam, juga bila ada yang mengalami tekanan darah tinggi dan masih banyak tanaman lain yang saya budidayakan, yang sudah saya buktikan khasiatnya,” sambungnya sambil memandangi tanaman di kebun obat tradisional miliknya.

Menjadi kepuasan tersendiri bagi Dorkas karena melalui tanaman yang ia budidayakan, anak-anaknya tidak harus ke rumah sakit ketika sakit. Keyakinannya terhadap khasiat tanaman obat ini terbukti di keluarganya sendiri. Sampai saat ini, Dorkas, suami dan anak-anaknya sehat dan belum pernah mengalami kegagalan dalam mengobati penyakit yang dialami, malah sebaliknya, selalu berhasil diobati dengan menggunakan obat tradisional. Secara obyektif, Dorkas mengungkapkan, “Bukan berarti kami tidak membutuhkan pengobatan medis, tetapi selagi kami masih mampu atasi dengan obat tradisional, pasti kami belum membutuhkan pengobatan medis”. Tentu bukan keluarganya saja yang menikmati manfaat tanaman obat ini, tetangga sekitarnya juga banyak yang tertolong. Dengan tegas Dorkas menandaskan, “Walaupun tidak mendapatkan imbalan apa-apa, namun bila para tetangga sembuh dari sakit saja, saya sudah sangat bersyukur,” imbuhnya.

Berkat ketekunan dan kesetiaannya pada obat tradisional, Pemerintah Kelurahan tempat Dorkas tinggal,  mendukung melalui pengadaan alat pengolahan obat tradisional dan pangan lokal. Dorkas berharap budidaya tanaman obat tradisional ini terus berkembang, semakin lengkap dan kalau memungkinkan bisa mengolah menjadi minyak urut, minyak luka  dan sabun herbal yang dapat dipasarkan, sehingga juga bisa bernilai ekonomis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang lainnya. *(Alfon/Marmi).